Oddbark Forum
You are not logged in. Please Register or Login.



Page:1
Posted: May 10, 2008 8:34:54 pm
johnwahyudi

Click here to set avatar

Pijatan Pak Hasan

Sebelumnya saya pernah cerita pengalaman dipijat refleksi oleh teman. Yang mau tahu cerita tadi silahkan baca ya, ada di bagian 'karangan sendiri'. Cerita lain yang banyak disambut baik adalah mengenai temen sekolah anak saya yang onani/masturbasi di rumah saya. Sekarang saya mau cerita yang lain lagi, yang terus saya fantasikan jadi seperti yang ada di tulisan ini. Begini ni ceritanya.

Teman saya (ibu-ibu juga) Dewi sangat suka dipijit refleksi. Dewi seumuran deh sama saya. Dulu-dulu dia sering cerita enaknya dipijit, tapi saya tidak begitu perhatian. Tapi sejak pengalaman dipijat oleh teman (suami istri teman keluarga kami), terus terang kadang-kadang kepikiran juga untuk dipijit refleksi lagi. Mungkin ada enaknya juga kan. Nah pagi itu saya nelpon Dewi, biasa ngobrol pagi. Teman saya Dewi ngasih tahu bahwa hari itu Pak Hasan akan memijit dia dan suaminya, kira-kira jam 12-an tengah hari. Katanya suaminya akan menyempatkan balik sebentar ke rumah pas istirahat siang untuk dipijat. Basa-basi dia mengajak saya pijat erfleksi juga. Ya boleh nih, kata saya yang membuat Dewi heran, karena biasanya saya tidak pernah mau. Dewi menyarankan saya datang jam 2-an supaya waktu saya datang nanti dia sudah selesai dipijat.

Sekitar jam 2 saya sampai di apartemen Dewi. Dewi membuka pintu dan memang dia sudah selesai direfleksi, dan tampak riang. Waktu saya tanya mana suaminya, Dewi hanya mengatakan sudah pulang lagi ke kantor. "Kita (maksudnya dia dan Pak Hasan) memang lagi nungguin kamu", kata Dewi. Di ruang tamu Pak Hasan sedang duduk di sofa.
Pak Hasan umurnya belum sampai 40 tahun, ya kira-kira 38 gitu. Jadi masih lebih muda dari saya. Orangnya ramah, murah senyum dan anaknya sudah dua, dan saya juga kenal istrinya. Pak hasan sekarang ini sedang mengambil S3 di universitas di sini.

"Nah dipijatnya mulai aja Rid", kata Dewi, "di kamar tamu aja supaya rileks". "Lho, bukannya di sini saja, sambil duduk" kata saya rada risih. "Nggak papa, kan ada saya saya temenin". "Ok deh kalau gitu" katsaya. Pak Hasan senyum saja melihat saya kagok.

Saya pun masuk ke kamar tamu, sementara Pak Hasan dan Dewi membuntuti langkahku dari belakang. "Mau pakai daster panjang nggak Rid?" tanya Dewi. "Ini sajalah, nggak perlu", kata saya. Saya memakai baju kurung terusan yang agak longgar. Dewi pakai baju daster rumahan berlengan panjang dan juga menutup rambut. Saya pun terus membuka kaus kaki dan duduk di pinggiran tempat tidur.

Saya lihat pintu kamar telah ditutup Dewi, dan AC juga telah dinyalakan, terasa sejuk. Dewi duduk di sisi lain dari ranjang.

"Silahkan tengkurap, Bu!" kata Pak Hasan membuyarkan lamunan saya. Aneh suasana kamar itu membuat suasana rada lain. Dengan perasaan berdebar-debar yang tak saya mengerti saya segera tengkurap di ranjang itu dengan merapatkan kaki dan kain panjangku. Aduh… mengapa jadi dag… dig…dug tak keruan begini? Kemudian saya tiba-tiba merasakan ranjang pegas itu bergoyang ditimpa beban tubuh Pak Hasan di samping saya. Dia mengambil posisi di sebelah kiri betis dan mulai memegang telapak kaki saya. Dan lagi-lagi saya merasakan debaran di dada saya bertambah kencang saja. "Tenang aja Rid, nggak akan sakit kok, malah enak", kata Dewi. "Iya bu, rileks aja", kata Pak Hasan.

Saya merasa telapak kaki saya diangkat dan diusap-usap sambil ditarik ke arah dadanya. Secara refleks saya berusaha merapatkan kedua paha karena malu.Pak Hasan membalurkan semacam minyak tawon. Diusapnya telapak kaki dan jari kaki yang licin karena minyak. Geli rasanya, dibarengi perasaan aneh yang akrab. Kadang-kadang Pak Hasan menarik, menekan jempol kaki. Sama sekali tidak ada rasa sakit atau ngilu. Sebaliknya perasaan nyaman dan hangat seperti mulai menyebar dari titik sentuhan. Perasaan tegang dan malu karena bersentuhan kulit dengan lelaki lain berangsur-angsur sirna. Apalagi di situ ada Dewi yang memperhatikan kami dengan serius.

Entah kenapa perasaan hangat dan nyaman juga membuat saya merasa malu. Saya hanya membenamkan wajah di atas bantal karena rasa malu. Ruangan dalam kamar serasa sunyi, hanya terdengar keriut pegas ranjang yang bergoyang karena gerakan tubuh Pak Hasan yang sesekali mengubah posisi, kadang di sebelah kananku, lalu kembali lagi ke sebelah kiri. Hampir lima menit berlalu, dan saya merasa semakin rileks dan hangat.
Wajah saya semakin saya benamkan ke dalam bantal karena entah mengapa saya menduga Pak Hasan pasti sedang memandangi bagian belakang tubuh saya. Aneh, kenapa ada perasaan risih dan malu begini. Orang mijit mesti memandang tubuh yang dipijit. Lagi pula saya kan berpakaian lengkap. "Maaf, kain panjangnya saya naikkan sikit ya bu, sampai ke lutut, mesti dibalur minyak juga bagian itu", kata Pak Hasan. "Iya pak, nggak papa", apa lagi yang bisa saya katakan selain itu. Namanya juga dipijit.

Pak Hasan membalur minyak pada bagian tumit, mata kaki, betis sebelah dalam, dan lipatan lutut dari kedua kakiku. Usapannya membuat daerah itu merinding dan geli tapi terasan berbarengan juga rasa nikmat. Pak Hasan dengan tenangnya terus mengurut, memijat dan mengusap betis dan lipatan lutut. Perasaan yang nyaman. ENtah kenapa, Dewi juga mengusap-usap kepalaku. Saya merasa tenang dan nyaman dan rileks. Yang membuat saya tersentak dan berdebar, Pak Hasan mulai juga menekan daerah paha belakang di atas lipat lutut sembari berkata, "Di daerah ini harus dipijit bu, ini titik yang bermasalah dan mesti diterapi."
Terus terang, sekalipun Pak Hasan sudah menjelaskan seperti itu saya merasa risih. Tetapi saya tak memprotes, yang keluar dari mulutku justru… "Tidak sakit kan Pak kalau diterapi di situ?"
"Saya akan usahakan ibu merasa nyaman dan enak.."
Dewi tetap mengusap-usap kepalaku dan sesekali punggungku tanpa sepatah kata.

Pak Hasan sekarang fokus ke kedua lipat lututku, lalu diratakannya minyak dengan mengusap halus hingga saya merasakan licin sekali. Kemudian diurutnya dengan tekanan yang lembut, kadang-kadang turun dari mata kaki ke atas lagi sampai lipatan lutut. Saya merasa enak bercampur geli sehingga beberapa kali secara refleks saya menggelinjang menahan geli. Akibatnya kain bawah baju kurung saya malah tertarik ke atas akibat gerakan tadi. Saya berusaha membetulkannya tapi tanganku tak sampai. Saya memutuskan untuk membiarkan saja. saya hanya berharap semoga Pak Hasan tidak dapat melihat bagian dalam kain lebih jauh. Entah mengapa saya merasa tegang sekali saat itu karena suatu sebab yang tidak saya pahami. Mungkin saya merasa tidak terima karena tubuhku disentuh lelaki selain suamiku, atau malah sebaliknya, saya hanya ingin mengingkari saja. Apalagi semakin lama saya merasa mulai bisa menerima dan merasa nyaman dengan pijatan pak Hasan. Mungkin juga karena ada Dewi di samping kami, yang dari tadi hanya memandang dengan serius sambil sesekali ikut memijit tangan saya.

Lambat-laun ketegangan saya berangsur-angsur sirna dan Pak Hasan semakin serius mengurut kedua betis, lipat lutut, terutama pada titik-titik yang tadi dikatakannya sebagai daerah kritis. Ditambah lagi minyak urut dan dioleskan semakin banyak, terasa mengalir ke kasur, jadi makin terasa licin dan enak ketika tangannya yang tidak terlalu kasar itu mengusap di atasnya. Keadaan ini membuat saya merasa tak usah malu dan tegang lagi, dan saya merasa jauh lebih rileks daripada sebelumnya.

Makin lama saya merasakan pijatan Pak Hasan mulai menjalar naik ke sedikit ke atas lipatan lututku, ke bagian bawah paha sebelah kanan dan kiri bersamaan. Kulitku di daerah itu bersentuhan dengan jari Pak Hasan. Oh, ternyata tangan Pak Hasan memijat dari bagian bawah kain. Entah mengapa ketika itu saya merasa geli luar biasa, tetapi bukan rasa geli yang membuat orang menggeliat-geliat, sebaliknya malah menerbitkan rasa nimat yang tinggi dan intens. Terasa hati saya gelisah dan ada perasaan aneh menyeruak lagi bersamaan dengan pijatan-pijatan lembut Pak Hasan yang terkadang menyentuh paha dalamku. Saya merasa meremang, dan permukaan kulit terasa nyaman. Sesekali paha saya menggelinjang karena sentuhan yang geli dan nikmat, napas saya mulai agak terengah karena debaran jantung yang meningkat.
Saya semakin kebat-kebit waktu saya rasakan pijatan itu mulai naik ke kedua paha saya, terlebih lagi, tanpa permisi Pak Hasan menyingkap kain panjang saya hingga tepat ke bawah pantatku. Dinginnya AC langsung menerpa kedua paha saya yang sekarang terbuka. saya mendadak menggigil, bukan karena kedinginan, melainkan saya menyadari bahwa Pak Hasan sekarang bisa memandangi seluruh paha saya dengan leluasa. Ah, harap-harap celana dalam saya tak tampak. Ya ampun, saya juga mendengar napas Dewi seperti mengeras juga. Saya lirik dia memandangi pijatan Pak Hasan pada paha saya dengan intens.

Ketika Pak Hasa meratakan minyak ke seluruh paha, dan menyentuh-nyentuh paha bagian dalam, saya merasa serasa tersengat arus listrik hangat sedap yang membuat saya menggeliat hebat tanpa sadar. Entah sengaja atau tidak jemari Pak Hasan menyentuh dan menekan pantat dan bagian dalam paha tetapi sudah sangat ke atas, membuat perasaan aneh dan nimat makin menguat. Saya merasa tubuh seram sejuk dalam nimmat. Oh Tuhan… lindungilah saya…

Kedua paha saya sudah mulai diurut secara bersamaan… diurut dari lipatan lutut… bergerak naik… saya rasakan telapak tangan Pak Hasan yang sebelah menekan paha dalam, dan yang sebelah lagi menekan paha luar. Dan saya seperti tak berdaya… menanti… menunggu ... dan aneh juga mengharap dengan perasaan yang tak menentu. Saat itu tekanan jari-jari Pak Hasan yang seolah tergelincir menuju pada paha dalam semakin kuat..dan jari itu terus .. terus bergerak naik.. menggelincir perlahan… menyusup ke dalam kain dan akhirnya…

Ahhhh.. saya hanya menggeliat saat jemari yang Pak Hasan itu akhirnya menyentuh dan menekan tepat di dalam lipatan pantatku… tepat pada pinggir kemaluanku dan lubang anus yang masih tertutup celana dalam. Terasa aliran panas dan nikmat menyembul di situ. Dan tanpa bisa ditahan lagi, terasa ada kebasahan merembes keluar, mengembun dari dalam kemaluan, meleleh membasah kepermukaan celana dalam. Aduh saya merasa malu sekali. Mengapa bisa seperti ini? Mengapa saya jadi bergejolak hanya karena dipijit? Oh… saya semakin tak berdaya… dan semakin berulang rembesan cairan hangat dari dalam lubangku ketika bagian selangkangan terasa tersentuh, entah disengaja atau tidak. Saya merasakan geli yang luar biasa sekaligus sensasi yang luar biasa pula dan mulai tidak kontrol. Saya belum pernah mengalami sensasi secepat dan senyaman ini ketika dengan suami… saya merasa jemari Pak Hasan menjalarkan sensasi yang aneh pada darah selangkangan… sekalipun saya mencoba mengingkarinya, saya tetap tak bisa mengelak bahwa saat ini saya telah benar-benar basah… suatu pertanda bahwa saya sudah siap sepenuhnya… Aduh malunya saya…

saya serasa tak bisa menahan diri lagi ketika sentuhan pada kewanitaanku semakin sering, dan kebasahanku seakan membanjiri permukaan celana dalamku. saya merasakan pantatku terjingkat-jingkat secara refleks, seakan-akan memberikan keleluasaan kepada pak tua ini untuk menyentuh lebih jauh. Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa jemari PakHasan sudah tidak hanya berhenti pada batas celana dalam, tetapi jemari-jemari itu kurasakan tergelincir masuk menyelinap melewati karet selangkangan celana dalam…dan langsung menekan bibir permukaan kewanitaanku secara langsung.

Aduh… saya kaget setengah mati, seakan tak percaya pada apa yang baru kualami. Rasa malu yang luar biasa berkelindan dalam hatiku karena pak Hasan pasti jarinya merasa dan mengetahui kebasahan di daerah. Tetapi tak berlangsung lama, jemari itu kurasakan makin liar balik lagi mengurut dari lutut..ke atas…tergelincir pada paha dalam karena licinnya minyak pada permukaan kulitku… semakin naik menyusup ke balik kain panjangku…menekan selangkanganku…. menyelusup dengan lembut batas celana dalamku… dan akhirnya berhenti pada bagian alur bibir genital yang paling peka yang sudah sangat basah…

Tiba-tiba saja, antara percaya dan tidak, saya merasakan suatu kegelian yang hebat mulai menyemut dalam rongga pinggul, membuat say merasa melayang-layang dan cairanku merembes keluar semakin banyak… saya merasakan suatu gejolak yang hebat seperti gelombang yang hendak menerjang bendungan pertahananku, saya merasa limbung… dan tak berdaya… karena geli, nyaman, dan nikmat yang mulai terasa secara berterusan. Kedua tangan pak Hasan sekarang pindah ke kedua bola pantatku dan mengusap dan memijit dari balik celana dalam.

Tiba-tiba pak Hasan menggumam " angkat naik sedikit ya bu pinggang pinggulnya" lirih dan lembut. Saya tergamam, tapi tiba-tiba terasa tangan Pak Hasan memegang pinggul kiri kanan ku dan menarik ke atas. Saya serasa jadi waras sedikit dan tiba-tiba merasa keberatan untuk mengangkat pinggul, nanti saya kan jadi nungging sedikit, alangkah malunya. Tapi saya jadi luluh apabila dengan suara lemah dan bergetar Dewi mengatakan " ayo lah Rid, angkat aja sedikit pinggulnya" dan tiba-tiba dia letakkan tangan di bawah perutku dan mengangkat lembut ke atas. Saya lihat Dewi mukanya sayu dan pucat memaksakan senyum. Saya pun menaikkan pinggang dan daerah pinggul, jadi sekarang saya bertelekan lutut dan bagian dada, sedikit nungging. Aduh malu sekali, apa lagi entah tiba-tiba Pak Hasan bersamaan dengan Dewi menyingkapkan kain bawah baju kurungku naik ke atas pinggang. Ya ampun, malunya Pak Hasan bisa melihat pantatku yang nungging. Dan kebasahan di celana dalamku pasti jelas kelihatan.

Tangan Dewi masih terasa di perutku dan juga di punggungku mengusap dengan perlahan. Terasa nyaman. Yang tak saya duga, terasa oleh saya Pak Hasan bersimpuh tetapi dengan kedua kakinya mengapit betis saya dan ya ampun terasa bagian depan celananya menggesek lipat lutut dan paha bawah saya.Otot dan darah saya terasa meremang dan mengalir deras, karena saya merasa ada organ keras dan lenting yang luar biasa menekan dari balik celana Pak Hasan, oh itulah kemaluannya. Terasa ada aliran listrik mengalir deras dari paha saya yang tertekan-tekan batang Pak Hasan mengalir ke sepanjang paha menuju lubang kenikmatan saya. Dan saya merasa jari Pak Hasan mulai mengurut pantat saya di daerah lipatan pantat, ah terasa lubang anus saya seperti diurut. Rasa gatal dan geli menyengat. Dan ah satu lagi tangannya memijat bagian depan celana dalam saya, tepat di bagian antara lubang nikmat dan batang kelentit saya. Saya bagai terbang, merasakan terpaan kenikmatan. Ah, usapan Dewi pun juga sudah terasa jadi remasan remasan di perut dan punggubng saya. Dewi terengah-engah mengusap memijit saya sambil memperhatikan semua gerak jari Pak Hasan. Nafas Dewi terdengar keras dan terengah, dengan muka yang pucat.

Pak Hasan terus secara ritmik memijit alur anus dan alur kelauan saya. Aduh, dia terus memompa pinggul dan batangnya ke lipat paha saya. Pak Hasan terdengar nafasnya menggemuruh dan mulutnya ada erangan. Jarnya yang di pantat saya terasa mendesak-desak menusuk masuk lubang anus saya walau terhalang kain celana dalam. Dan aduh, jarinya yang di depan kemaluan saya menjambak dan menarik-narik dari luar dan menekan-nekan darah alur lubang dan kelentit saya. Jambakan jarinya membuat rambut bibir kemaluan saya tertarik-traik, dan tekanan jarinya seolah mau menembus masuk lubang saya. Ah kenikmatannya terasa semakin memuncak. AKhirnya saya tak tahan lagi dan saya merasa meledak kenikmatan di daerah kemaluan saya. Mulut saya terasa mendesis, mengaduh, dan melolong. Pinggul saya bergerak liar mengejan-ngejan. Saya biarkan kenikmatan dan nafsu saya meledak memuncang, badan tegang tergoncang, jari saya mencekam kasur erat-erat. Merasakan kenikmatan naik memuncak dan bertahan di atas, dan akhirnya menurun secara perlahan. Dan tiba-tiba saya rasa bagian batang Pak Hasan mengejang-ngejang, terasa oleh kulit daerah paha dan liopat lutut saya. Pak Hasanmenekan-nekan keras dan terengah, terasa batangnya mengejut-kejut. Ah pasti airnya Pak Hasan sedang keluar di dalam celananya, batin saya.

Setelah kenikmatan itu mereda, otak waras saya kembali normal. Saya merasa malu yang sangat. Aduh, apa ini, kenapa terjadi. Saya lihat Dewi pucat dan mulut ternganga. Tangannya mencengkeram kasur, tapi tangan yang satu lagi tampak mencengkeram lengan Pak Hasan. Pak Hasan terasa tak lagi tegang.Aduh apa ini? Saya tak sanggup lagi melihat muka Pak Hasan. Saya mesti keluar dari sini, pulang.

Terima kasih, tergagap-gagap kata saya. "pijatnya sudah yah, saya pulang sekarang". Tanpa menunggu jawaban mereka saya bangkit dan menuju keluar apartemen Dewi. Tanpa desakan libido yang telah dipuaskan dan memuncak tadi, otak saya terasa normal. Saya mesti pulang. Ahh, rasa malu yang luar biasa, tapi kenikmatan yang juga luar biasa. Saya baru ingat, Pak Hasan masih di rumah Dewi. Apa yang kemudian terjadi antara Dewi dan Pak Hasan, saya tidak tahu. Aduh, apa nanti kalau saya ketemu Dewi di acara arisan yang biasa kita buat sebulan sekali. Ah biarlah itu urusan nanti.

Powered by myUPB  ·  PHP Outburst   ©2002 - 2014